How COVID-19 heightens water problems

How COVID-19 heightens water problems

COVID-19 will unquestionably delay achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), the latest global attempt to improve the quality of life of billions of people around the world by 2030.

Increasing access to clean water and sanitation are among the 17 SDGs. During normal times, and even more during the present pandemic, access to clean water and proper sanitation is essential.

But we must now rethink how we achieve the goals laid out in the SDGS. First, we should stop looking at access to safe water as the problem of developing countries alone – it is a global problem that worsens under extreme conditions like the current pandemic.

How COVID-19 heightens water problems

During the current pandemic, a lack of clean water for drinking and proper hygienic practices has become a major concern for cities in the developing world, especially in slums, peri-urban areas and refugee camps.

Countries in Africa and South Asia, with some 85% of the world’s people live, face particularly daunting challenges to access clean, drinkable water.

But the problem is not confined to these areas. Developed countries are increasingly facing similar concerns. After catastrophic experiences with water utilities in Flint in 2014 in the US, and in 2000 in Walkerton, Canada, which seriously affected the health of a large number of people, millions in these two countries are now using point of treatment systems in their homes to further purify city water. They are also buying bottled water because they perceive it to be cleaner and safer. In overwhelming percentage of cases of people in developed countries, from Japan and Singapore to western Europe and the US, are doing this out of choice and not because they have to.

But the financial impact of lockdown and growing unemployment means that spending extra on safe water has become a problem for many households – and millions are struggling to pay their utilities bills, including for water.

In the US, some 57 million people in several states have been allowed to continue receiving water from their utilities even if they cannot currently pay for it. But there are still many poor and disadvantaged people who did not have access to water services before the pandemic, and still do not have them.

In the European Union (EU), most member states need to increase their annual water supply and sanitation expenditure by more than 25% to comply with EU Drinking Water and Urban Wastewater Treatment Directives. This will also contribute towards reaching the SDGs. But in these uncertain times, the EU will have to rethink how best to make use of scarce financial resources to achieve their goals.

The pandemic has further worsened the living conditions and health of millions of people in both developed and developing countries, and it is unclear when this situation might improve. Even in the world’s richest country, USA, at least two million people still do not have access to piped water.

The need for leadership

Read more: How to make water issues matter to world leaders

From the late 1970s, the United Nations have advocated for improved source of water. But this term does not mean clean and safe water, even though UN organisations use these terms interchangeably.

COVID-19 has focused global attention to clean water for frequent handwashing, drinking and personal hygiene. Political leaders will now have to give increasing attention not only to access to water but also to its quality. It will be an even more daunting task, in both developed and developing countries, to regain the trust of their people that water they are receiving is safe to drink and for personal hygiene because of extensive past mismanagement in most countries of the world.

The world needs leadership, long-term sustainable policies, robust legal and regulatory systems, strong institutions, and services that are reliable and provided irrespective of the circumstances. For example, Singapore ensured all these conditions were fulfilled from 1965 onwards. As a result, its water management is now one of the best in the world.

The absence of enlightened political leadership in nearly all countries of the world, both developed and developing, will exacerbate the problem in the coming decades because of increasing uncertainties due to both expected events like climate change and unexpected ones like COVID-19.

Water affects all aspects of life, economic activity and ecosystems. As the British-American poet, W.H. Auden wrote

**************

Pandemi COVID-19 akan pasti menunda tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang dicanangkan oleh PBB sebagai upaya berskala global untuk meningkatkan kualitas hidup miliaran orang di seluruh dunia, yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030.

Peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu di antara 17 tujuan SDGs. Akses terhadap air bersih memang sangat penting dalam kondisi normal sekalipun, apalagi pada masa pandemi.

Maka, kita harus memikirkan kembali apa saja cara yang dapat dilakukan agar tujuan-tujuan pada SDGs dapat tercapai. Untuk soal air bershi, kita semua harus berhenti memandang masalah ini hanya terjadi di negara berkembang – kelangkaan air bersih merupakan masalah global yang diperburuk karena kondisi ekstrem akibat pandemi ini.

BAGAIMANA COVID-19 MEMPERBURUK MASALAH AIR BERSIH

Selama pandemi ini berlangsung, berbagai kota di negara-negara berkembang menghadapi masalah kelangkaan air bersih, terutama di kawasan kumuh, pinggiran kota, dan kamp-kamp pengungsi.

Negara-negara di Afrika dan Asia Selatan, tempat dimana 85% dari populasi manusia tinggal, sedang menghadapi kesulitan yang besar dalam mengakses air bersih yang dapat diminum.

Tetapi, masalah ini tidak hanya dialami negara-negara berkembang. Negara-negara maju pun mengalami masalah serupa. Sejak terjadinya krisis air di Flint di Amerika Serikat pada tahun 2014 dan krisis air di Walkerton, Kanada pada tahun 2000, yang berdampak buruk pada kesehatan orang banyak, penduduk dari kedua negara ini pun menggunakan sistem point-of-treatment di masing-masing rumah mereka untuk membersihkan air. Mereka pun memilih untuk membeli air kemasan karena air kemasan dianggap lebih bersih dan aman.

Namun, dampak finansial akibat adanya lockdown dan meningkatnya angka pengangguran menjadi pemicu masalah baru pada banyak rumah tangga, karena mereka perlu mengeluarkan uang lebih agar dapat mengakses air bersih. Bahkan banyak orang yang kesulitan untuk membayar tagihan utilitas mereka, termasuk tagihan air.

Di Amerika Serikat, sekitar 57 juta orang di berbagai negara bagian dapat tetap mengakses air bersih, walaupun mereka tidak dapat membayar tagihannya. Namun, pada saat ini, masih banyak juga orang-orang miskin dan kurang beruntung yang tidak dapat mengakses berbagai layanan air, karena mereka telah mengalami kesulitan ini bahkan sejak sebelum adanya pandemi.

Di Uni Eropa, hampir semua negara anggotanya perlu menambah lebih dari 25% pengeluaran air dan sanitasi mereka setinggi 25% untuk memenuhi EU Drinking Water and Urban Wastewater Treatment Directives, atau arahan mengenai air minum dan pengolahan air limbah kota yang dikeluarkan oleh Uni Eropa. Hal ini tentunya berkontribusi dalam upaya memenuhi SDGs. Namun, pada masa penuh ketidakpastian seperti saat ini, Uni Eropa juga perlu memikirkan kembali tentang bagaimana cara agar negara-negara anggotanya dapat mencapai tujuan-tujuan mereka dengan sumber daya finansial yang terbatas.

Pandemi ini telah memperburuk kondisi kehidupan dan kesehatan orang banyak, baik di negara maju dan negara berkembang, dan hingga saat ini, masih belum jelas kapan situasi ini akan membaik. Bahkan, di negara kaya seperti Amerika Serikat setidaknya 2 juta orang masih belum dapat mengakses air keran.

PERLUNYA KEPEMIMPINAN

Sejak akhir tahun 1970an, PBB telah melakukan upaya advokasi untuk meningkatkan sumber air. Namun, istilah ini tidak selalu memiliki arti air bersih, walaupun organisasi-organisasi di bawah naungan PBB menggunakan kedua istilah ini secara bergantian.

Sejak pandemi COVID-19, perhatian dunia telah terpusat pada perlunya air bersih untuk mencuci tangan, minum, dan untuk kebersihan pribadi. Maka, mulai saat ini, para pemimpin politik harus juga memperhatikan kualitas air, bukan hanya kuantitasnya saja. Hal ini tugas yang berat bagi negara maju maupun berkembang, karena negara perlu mendapatkan kembali kepercayaan rakyatnya akan bersihnya air yang mereka peroleh untuk dikonsumsi atau untuk kebersihan pribadi. Hampir seluruh negara di dunia pernah mengalami masalah atau krisis pengelolaan air di masa lampau.

Dunia membutuhkan kepemimpinan, kebijakan yang berkelanjutan, sistem hukum, peraturan serta lembaga-lembaga yang kuat yang kuat serta layanan yang dapat diandalkan pada keadaan apapun.

Tidak adanya kepemimpinan politik yang baik di hampir semua negara di dunia, baik maju maupun berkembang, akan memperburuk masalah yang akan timbul dari kejadian yang sudah diprediksi–seperti perubahan iklim–maupun tidak terduga–seperti COVID-19 –dalam beberapa dekade ke depan.

Air mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, ekonomi, dan ekosistem. Seperti yang pernah ditulis oleh seorang penyair asal Inggris-Amerika, W. H. Auden: “Banyak orang dapat hidup tanpa adanya cinta, namun tidak orang yang dapat hidup tanpa adanya air.”

Cecilia Tortajada Senior Research Fellow, Institute of Water Policy, Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore. Asit K. Biswas , Distinguished visiting professor, University of Glasgow.

This article was originally published in English